Silahturahmi Takmir Masjid se-Kab. Sukoharjo, FKUB Serukan Persatuan & Kesatuan NKRI

Seputar Jabar

Tidak ada Masjid radikal, yang ada adalah ketidakmampuan dalam pengelolaannya.

Sukoharjo –  Masjid sebagai lembaga keagamaan merupakan tempat perjumpaan dan berkumpulnya umat secara rutin dengan hati dan pikiran yang lebih jernih ketimbang mereka bertemu di tempat-tempat lain. Ketika mereka berada di masjid maka akan lebih terbuka dan lebih jernih pikiran dan hatinya, karena di masjid umat akan lebih dekat kepada Allah SWT.

“Masjid diambil dari kata sajada, yajudu, sujudan, yang berarti patuh taat serta tunduk dengan penuh homat dan takzim. Sujud adalah meletakkan kedua tangan, lutut, dan kaki ke dalam Masjid. Masjid adalah bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat, Masjid artinya “Tempat bersujud” mengandung makna tunduk dan patuh, karena itu hakikat dan tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata”, papar Ketua FKUB Sukoharjo Dr. Zainal Abas, M.Ag.

Demikian disampaikan dihadapan sekitar 50 orang utusan perwakilan Ketua Tahmir atau pengurus Masjid se-Kab. Sukoharjo di RM Soto Pak Harto Jln. Raya Solo – Wonogiri Km. 15 Kel. Begajah Kec. Sukoharjo Kab. Sukoharjo yang dipimpin oleh Kepala Kemenag Kab. Sukoharjo H. Ihsan Muhadi, S.Ag, Kamis 26/12/2019.

Sementara itu Kepala Kemenag Kab. Sukoharjo H. Ihsan Muhadi, S.Ag mengatakan ada sekitar 1.768 Masjid dan 733 Mushola dan ini masih belum terdata semua, salah satu tugas penyuluh agama Islam untuk mendata kembali jumlah tersebut.

Lanjut H. Ihsan Muhadi, S.Ag menegaskan bahwa tugas kita adalah menjaga Masjid, bagaimana kita bisa memfilter tentang pemahaman pemahaman yang tidak berdasar, untuk itu dalam rangka inilah kita berkumpul untuk silaturahmi dan apa yang di sampaikan oleh para narasumber bisa disampaikan kepada takmir lainnya.

Senada apa yang disampaikan Kepala Kemenag Kab. Sukoharjo, Ketua FKUB Sukoharjo Dr. Zainal Abas, M.Ag menambahkan bahwa Ukhuwah Islamiyah, Insaniyah dan Wathaniyah adalah saling menjaga kerukunan antar umat beragama dan membudidayakan rasa saling membutuhkan, saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia serta bersama sama menjunjung tinggi martabat bangsa dimata bangsa lain. “Tidak ada perbedaan yang menjadi dasarnya untuk saling bermusuhan, karena tidak ada satu manusiapun yang hidup dalam keabadian”, ujarnya.

Sedangkan narasumber dari Amir Institut menegaskan tidak ada Masjid radikal, yang ada adalah ketidakmampuan dalam pengelolaannya, adanya alih fungsi masjid yang di pegang oleh kelompok-kelompok yang hanya memanfaatkan untuk kepentinganya. Masjid sangat berfungsi untuk masyarakat, tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi masjid juga sebagai pusat aktifitas umat islam, tegasnya.

Perlu diketahui bersama, kegiatan silahturahmi dan pembinaan bagi takmir masjid ini diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam Kab. Sukoharjo dan Kantor Kementerian Agama Kab. Sukoharjo sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah selain menjalin silaturahmi antar takmir masjid se-Kab. Sukoharjo. (/tl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *