Patut dipahami bahwa seseorang menjadi teroris bukan proses yang instan, tetapi melalui tahapan dari mengadopasi narasi-narasi intoleran, radikalisme dan terakhir menuju terorisme
Sukoharjo – Kaum perempuan merupakan salah satu fondasi penting bangsa Indonesia. Bahkan bangsa Indonesia juga menyebut negara ini dengan Ibu Pertiwi. Untuk itulah seorang ibu harus bisa mendidik anaknya agar menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa, serta mengawasi mereka dari pengaruh radikalisme dan terorisme.
Ada yang bilang bahwa perempuan melihat teman yang bawa senjata itu keren, itu yang mereka katakan ketika melihat sekilas bahwa itu suatu hal yang keren yang menyenangkan itu bagi mereka-mereka yang melihat sekilas saja. Apa itu radikalisme, siapa saja yang terlibat di dalamnya, siapa saja orang yang pernah melakukan hal itu.
Hal ini disampaikan Pengurus PC Fatahiyat NU Kab. Sukoharjo Rina Puji Handayani M.Si saat membuka seminar “Peran Perempuan Dalam Pembangunan Perdamaian dan Mencegah Radikalisme” di Pendopo GSP Jl. Jend Sudirman No. 199 Kel. Jombor Kec. Bendosari Kab. Sukoharjo, Minggu (15/03/2020).
Hadir dalam acara diantaranya Kepala Kesbangpol Kab. Sukoharjo Gunawan Wibisono S.So, Danramil 11/Plkt mewakili Dandim 0726/Skh Kapten Inf. Suroso dan Kapolsek Bendosari Iptu Retno Wiyarti A.Md.Keb, Manajer Progam AMAN Indonesia Siti Hanifah S.Mi M.Pd dan Ketua PAC Fatayat NU Baki Binti Rokayati A.Md.AK.

Dalam sambutan Bupati Sukoharjo yang diwakili Kepala Kesbangpol Gunawan Wibisono menyampaikan peran perempuan dalam keluarga sangatlah penting salah satunya memiliki potensi besar dalam mencegah ancaman radikalisme dan terorisme, paparnya. Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang bisa terpapar radikalisme yakni kemiskinan, kesenjangan sosial dan ketidakadilan, imbuhnya.
Perubahan sikap, perilaku dan pola hidup dapat dijadikan tolak ukur, apakah anak kita, saudara kita, tetangga kita terpapar radikalisme yakni yang dulunya periang tiba-tiba menjadi pendiam, berani terhadap orang tua dan mengingatkan kita sebagai orang tua dengan dalil-dalil agama, ujarnya.
Lebih lanjut Gunawan menjelaskan, apabila ciri-ciri diatas ada pada keluarga, maka bagaimana sikap orang tua menghadapinya diantaranya harus didekati secara perlahan dan juga harus dilakukan counter interpretasi tentang bagaimana memahami agama secara benar, tidak cukup pendidikan karakter dan nasionalisme saja, tutupnya.
Senada dengan hal itu, penyebaran faham radikalisme merupakan tugas kita semua untuk bagaimana menanggulangi atau bagaimana dalam pencegahannya. Yang paling mudah yaitu dimulai dari masyarakat terkecil yakni keluarga, ujar Kanit Intelkam Polsek Bendosari Aiptu Irwan Wahyudi S.Sos M.Si dalam materi yang disampaikannya.
Di sisi lain, kelompok teroris menyebarkan propaganda dan narasi bermuatan sentimen dan kebencian berbasis perbedaan agama sebagai bagian dari upaya meradikalisasi masyarakat.
“Patut dipahami bahwa seseorang menjadi teroris bukan proses yang instan, tetapi melalui tahapan dari mengadopasi narasi-narasi intoleran, radikalisme dan terakhir menuju terorisme,” terang Irwan.
Kegiatan ini merupakan bagian penting dalam mengedukasi peran orang tua khususnya perempuan dan ibu rumah tangga sebagai bagian dari kewaspadaan bersama dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme (/Tl).

